MAKALAH TENTANG BERBICARA

DISUSUN OLEH
ILHAM FIRDAUS
D1B016066
D1B016066
DOSEN
PEMBIMBING : SHINTA ANGGREANY. SP.M,Si
FAKULTAS
PERTANIAN
PROGRAM
STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS
JAMBI
T.A
2016/2017
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr .wb
Segala puji bagi Allah SWT yang
telah melipahkan taufik dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini
,Shalawat dan salam tidak lupa kita sanjung tinggikan kepada
nabi Muhammad SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya saya
mampu menyelesaikan tugas makalah bahasa indonesia ini,
Makalah ini merupakan tugas bahasa indonesia fakultas pertanian program studi
agribisnis .
Makalah ini membahas tentang
berbicara dan cara berbicara dengan baik ,saya sangat berharap karya tulis ini
dapat membantu kita untuk dapat berbicara dengan baik dan benar .
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit
hambatan yang saya hadapi. Namun saya menyadari bahwa kelancaran dalam
penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan,bimbingan dan doa
orang tua, sehingga kendala-kendala saya dapat teratasi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih
luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca. kami sadar bahwa makalah
ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,
kepada dosen pembimbing saya meminta masukannya
demi perbaikan pembuatan makalah kami di
masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca.
Jambi 12 oktober
2016
ILHAM
FIRDAUS
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................................... 1
A.Latar
belakang..........................................................................................................1
B.Tujuan..........................................................................................................................2
C.Manfaat........................................................................................................................2
BAB II Pembahasan...................................................................................................................................3
A.
Berbicara
..................................................................................................................3
B.
Tujuan berbicara.................................................................................................11 C.Faktor-faktor Penunjang dan
Faktor Penghambat Kegiatan berbicara
........................................................................................................................4
D.Faktor penghambat
berbiacara.........................................................................6
E.Faktor pendektan
berbicara...............................................................................7
BAB IV PENUTUP.....................................................................................................................................12
A.Kesimpulan..............................................................................................................12
DAFTAR
PUSTAKA...................................................................................................................................13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia tidak lepas
dari kegiatan berkomunikasi, dengan komunikasi kita semua dapat berhubungan
satu sama lain. Seseorang yang mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik akan
lebih mudah bergaul terutama dengan lingkungan masyarakat dan mudah mencari
teman baru .
Keterampilan berbahasa
merupakan modal utama dalam komunikasi yang terdiri dari 4 aspek yaitu:
menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis, Komunikasi pula
tidak lepas dari kegatan berbicara, maka dari itu keterampila berbicara dapat
menunjang dalam berkomunikasi. Maka salah satu aspek berbahasa yang harus
dikuasai oleh sisa adalah berbicara, sebab keterampilan berbicara menunjang
keterampilan lainnya .
Keterampilan ini
bukanlah suatu jenis keterampilan yang dapat diwariskan secara turun temurun
walaupun pada dasarnya secara alamiah setiap manusia dapat berbicara. Namun,
keterampilan berbicara secara formal memerlukan latihan dan pengarahan
yang intensif.memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap sebagai
suatu yang esensial untuk mencapai keberhasilan setiap individu maupun
kelompok. Seseorang yang mempunyai keterampilan berbicara yang baik,
pembicaraannya akan lebih mudah dipahami oleh penyimakny. Kemampuan seseorang
dalam berbicara juga akan bermanfaat dalam kegiatan menyimak dan memahami
bacaan.
Akan tetapi, masalah
yang terjadi di lapangan adalah tidak semua orang mempunyai kemampuan berbicara
yang baik. Oleh sebab itu, pembinaan keterampilan berbicara harus dilakukan
sedini mungkin. Pentingnya keterampilan berbicara atau bercerita dalam
komunikasi juga diungkapkan oleh Supriyadi bahwa apabila seseorang memiliki
keterampilan berbicara yang baik, dia akan memperoleh keuntungan sosial maupun
profesional.
B. Rumusan Masalah
Dengan melihat yang ada
dala latar maka, penulis dapat menyimpulkan bahwa rumusan masalah yang dapat
diambil adalah:
a. Apakah yang dimaksud berbicara?
b. Apa sajakah tujuan berbicara?
c. Apa sajakah faktor
penunjang kegiatan berbicara?
d. Apa sajakah faktor penghambat kegiatan berbiara?
e. Bagaimana pendekatan pembelajaran
bicara (PBB) ?
C. Tujuan Masalah
a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud berbicara.
b. Untuk mengetahui apa
tujuan berbicara.
c. Untuk mengetahui apa faktr penunjang kegiatan
berbicara.
d. Untuk mengetahui apa
faktor penghambat kegiatan berbicara.
e. Untuk mengetahui pendekatan
berbicara.
D. Manfaat
a. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
b. Sebagai pelajaran dalam berbicara
c. Sebagai bahan untuk mengekpresikan diri
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Berbicara
Berbicara merupakan
kepandaian manusia untuk mengeluarkan suara dan menyampaikan
pendapat dari pikirannya ,Berbicara dapat merujuk ke:
- Pidato
- Pembicaraan umum, proses berbicara pada sekelompok orang
- Gaya pengucapan, bagaimana bagian tubuh yang terlibat dalam menghasilkan suara berjalan
- Peniruan berbicara, peniruan pembicaraan manusia oleh hewan berbicara terlatih
- Bahasa hewan, suara seperti nyanyian burung yang kadang-kadang disebut "berbicara"
Pengertian berbicara
adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk
mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan
,Pengertian tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa berbicara berkaitan
dengan pengucapan kata-kata yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan
disampaikan baik itu perasaan, ide /gagasan.
Definisi berbicara juga
dikemukakan oleh Brown dan Yule dalam Puji Santosa, dkk Berbica adalah
kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau
menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan secara lisan. Pengertian ini pada
intinya mempunyai makna yang sama dengan pengertian yang disampaikan oleh
Tarigan yaitu bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata.
Haryadi dan
Zamzani mengemukakan bahwa secara umum
berbicara dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi
hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga
maksud tersebut dapat dipahami orang lain. Pengertian ini mempunyai makna yang
sama dengan kedua pendapat yang diuraikan diatas, hanya saja diperjelas dengan
tujuan yang lebih jauh lagi yaitu agar apa yang disampaikan dapat dipahami oleh
orang lain..
Berdasarkan
pendapat-pendapat yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa
pengertian berbicara ialah kemampuan mengucapkan kata-kata dalam rangka
menyampaikan atau menyatakan maksud, ide, gagasan, pikiran, serta perasaan yang
disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penyimak agar apa yang disampaikan
dapat dipahami oleh penyimak.
B. Tujuan Berbicara
Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Komunikasi merupakan
pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih
sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Oleh karena itu, agar dapat
menyampaikan pesan secara efektif, pembicara harus memahami apa yang akan
disampaikan atau dikomunikasikan. Tarigan juga mengemukakan bahwa berbicara
mempunyai tiga maksud umum yaitu untuk memberitahukan dan melaporkan (to
inform), menjamu dan menghibur (to entertain), serta untuk membujuk,
mengajak, mendesak dan meyakinkan (to persuade).
Secara umum, tujuan berbicara dapat terbagi atas 5 yaitu:
Secara umum, tujuan berbicara dapat terbagi atas 5 yaitu:
1) Berbicara untuk
Menghibur
Menghibur adalah
membuat orang senang dan bergembira. Dalam hal ini seorangpembicara menarik
perhatian pendengar dengan cara yang menyenangkan, misalnyahumor, spontanitas,
kisah-kisah jenaka, dan sebagainya.
2) Berbicara untuk
Menginformasikan
Berbicara untuk tujuan
menginformasikan dilaksanakan kalau seseorang berkeinginan untuk :
o Menerangkan atau menjelaskan sesuatu proses
o Memberi atau menanamkan pengetahuan
o Menguraikan, menafsirkan, atau mengiterpretasikan sesuatu hal
o Menjelaskan kaitan, hubungan, relasi antara benda, hal, atau peristiwa.
3) Berbicara untuk
Menstimulasi
Menstimulasi merupakan
kegiatan (berbicara) yang kompleks. Ketika menstimulasipendengar pembicara
harus pintar merayu atau mempengaruhi pendengarnya. Hal inidapat tercapai jika
pembicara benar-benar mengetahri minat, kebutuhan, dan cita-citapendengarnya.
4) Berbicara untuk
Meyakinkan
Meyakinkan merupakan
upaya seseorang agar orang lain bersikap tertentu. Melaluipembicaraan yang
meyakinkan, sikap pendengar dapat diubah misalnya dari sikapmenolak menjadi
sikap menerima. Melalui pembicara yang terampil dan disertaidengan bukti,
fakta, contoh, dan ilustrasi yang mengena, sikap itu dapat diubah darimenolak
menjadi menerima.
5). Berbicara untuk
Menggerakkan
seseorang yang pandai
menggerakkan massa. Dalam berbicara untuk menggerakkan contohnya kampanye .diperlukan
pembicara yang pandai berorasi dan berkharisma. Melalui kepintarannyaberbicara,
kelihaiannya membakar emosi, kecakapan memanfaatkan situasi,
ditambahpenguasaannya terhadap ilmu – jiwa massa, pembicara dapat
menggerakkanpendengarnya.
C.Faktor-faktor Penunjang dan Faktor Penghambat Kegiatan Berbicara
Berbicara atau kegiatan
komunikasi lisan merupakan kegiatan individu dalam usaha menyampaikan pesan
secara lisan kepada sekelompok orang, yang disebut juga audience atau majelis.
Supaya tujuan pembicaraan atau pesan dapat sampai kepada audience dengan baik,
perlu diperhatikan beberapa faktor yang dapat menunjang keefektifan berbicara.
Kegiatan berbicara juga memerlukan hal-hal di luar kemampuan berbahasa dan ilmu
pengetahuan. Pada saat berbicara diperlukan a) penguasaan bahasa, b) bahasa, c)
keberanian dan ketenangan, d) kesanggupan menyampaikan ide dengan lancar dan
teratur.
Faktor penunjang pada
kegiatan berbicara sebagai berikut. Faktor kebahasaan, meliputi a) ketepatan
ucapan, b) penempatan tekanan nada, sendi atau durasi yang sesuai, c) pilihan
kata, d) ketepatan penggunaan kalimat serta tata bahasanya, e) ketepatan
sasaran pembicaraan. Sedangkan faktor nonkebahasaan, meliputi a) sikap yang
wajar, tenang dan tidak kaku, b) pendangan harus diarahkan ke lawan bicara, c)
kesediaan menghargai orang lain, d) gerak-gerik dan mimik yang tepat, e)
kenyaringan suara, f) kelancaran, g) relevansi, penalaran, h) penguasaan topik.
Berdasarkan uraian di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan
berbicara adalah faktor urutan kebahasaan (linguitik) dan non kebahasaan
(nonlinguistik).
D. Faktor Penghambat
Kegiatan Berbicara
Ada kalanya proses
komunikasi mengalami gangguan yang mengakibatkan pesan yang diterima oleh
pendengar tidak sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pembicara. Tiga faktor
penyebab gangguan dalam kegiatan berbicara, yaitu:
- Faktor fisik, yaitu faktor yang ada pada partisipan sendiri dan faktor yang berasal dari luar partisipan.
- Faktor media, yaitu faktor linguitisk dan faktor nonlinguistik, misalnya lagu, irama, tekanan, ucapan, isyarat gerak bagian tubuh, dan
- Faktor psikologis, kondisi kejiwaan partisipan komunikasi, misalnya dalam keadaan marah, menangis, dan sakit.
E. Pendekatan
Pengalaman Berbahasa
Pendekatan dalam
pembelajaran kemampuan berbahasa dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan yang
dihadapi guru dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik.
Definisi ini sesuai dengan harapan dalam proses belajar mengajar, yaitu siswa
atau mahasiswa dapat memahami suatu konsep pengetahuan dan mampu menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu
sendiri, pendekatan dalam proses belajar mengajar selalu mengalami
perkembangan.
Pendekatan Pengalaman
Berbahasa merupakan alih kata dari istilah Language Experience Approach (LEA).
Seperti dikutip oleh Harjasujana bahwa Huff mendefinisikan LEA berdasarkan
makna yang terkandung dalam unsur-unsur kata pembentuknya, terutama kata
experience dan language. Menurut Huff, experience merupakan pengalaman
seseorang yang diperoleh dari aktivitas tertentu. Sementara itu, language
merupakan cerminan dari empat aspek keterampilan berbahasa yang meliputi
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. LEA dimaknai sebagai suatu
pendekatan dalam pengajaran berbicara yang melibatkan kegiatan menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis sebagai cerminan dari pengalaman berbahasa
anak.
Oka Harjasujana,
mengatakan bahwa pendekatan pengalaman berbahasa adalah metode pengajaran
penguasaan keterampilan berbahasa yang menggabungkan pembelajaran berbicara dengan
pengalaman bahasa anak yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Aspek yang harus diperhatikan dalam pembelajaran itu meliputi kemampuan
berpikir dan kemampuan mengungkapkan bahasa.
Menurut Harjasujana
hal-hal yang harus diperhatikan dalam Pendekatan Pengalaman Berbahasa (PPB)
adalah :
- PBB merupakan suatu pendekatan pengajaran.
- Materi ajar digali dari pembelajar sendiri atau pengalaman berbahasa si pembelajar itu sendiri.
- Pelaksanaan pembelajarannya melibatkan seluruh aspek keterampilan berbahasa siswa secara integratif.
Keunggulan dan
Kelemahan Pendekatan Pengalaman Berbahasa
Keunggulan Pendekatan Pengalaman Berbahasa antara lain :
- Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa dimulai dengan soal perkembangan bahasa anak. Maksudnya, materi bahan ajar yang digunakan untuk pengajaran berbicara sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa anak. Tugas untuk memilih bahan yang cocok menjadi ringan karena wacana yang digunakan sudah dengan sendirinya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa anak.
- Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa mengintegrasikan semua kegiatan kebahasaan. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, anak-anak mendengarkan, berbicara, membaca, dan terkadang menuliskan wacana yang tengah dikembangkan.
- Pendekatan Pengalaman Berbahasa mempunyai sifat wajar.
- Pendekatan Pengalaman Berbahasa tidak memerlukan banyak biaya
Suatu pendekatan yang
diterapkan pasti memiliki kelemahan di balik keunggulannya. Kelemahan
Pendekatan Pengalaman Berbahasa adalah sebagai berikut.
- Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa hanya digunakan pada pengajaran penguasaan ketrampilan berbahasa tingkat awal. Selanjutnya, Pendekatan Pengalaman Berbahasa dapat dikembangkan pada pengajaran penguasaan keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis untuk tingkat lanjut. Hal ini dapat dikembangkan karena ada anak-anak yang duduk di kelas atas namun kemampuan penguasaan keterampilan berbahasanya masih berada pada peringkat permulaan.
- PBB menuntut waktu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pendekatan yang lain.
- PBB menuntut agar selalu menyadari adanya sejumlah keterampilan dan sejumlah kosakata sehingga guru harus mengetahui apa yang akan diajarkan dan kapan mengajarkannya.
Dari paparan di atas
dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan pengajaran kemampuan berbahasa dengan
menggunakan pendekatan pengalaman berbahasa ada beberapa keunggulan dan
kelemahan di dalamnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika
kelemahan-kelemahan tersebut diatasi terlebih dahulu.
Cara mengatasi kelemahan tersebut diantaranya sebagai berikut:
a. Guru terlebih dahulu
harus mengetahui taraf keterampilan berbahasa siswa. Setelah itu guru dapat
menerapkan Pendekatan Pengalaman Berbahasa dalam pembelajaran keterampilan
berbicara.
b. Karena Pendekatan
Pengalaman Berbahasa menuntut waktu yang lebih banyak dari metode yang lain,
maka guru terlebh dahulu membuat metode yang tepat dalam pembelajran berbicara
denga Pendekatan Pengalaman Berbahasa, sehingga dalam waktu yang relatif
singkat tujuan pembelajaran dapat tercapai.
c. Karena dalam
pembelajaran menggunakan Pendekatan Pengalaman Berbahasa melibatkan semua
keterampilan berbahasa seperti menyimak, membaca, dan menulis, serta sejumlah
kosakata, maka guru harus dapat memilih tema-temayang sesuai dengan kemampuan
berpikir anak, dan kapan harus mengajarkannya kepada siswa.
Tujuan dan Asumsi
Pendekatan Pengalaman Berbahasa
Pendekatan Pengalaman
Berbahasa merupakan suatu pendekatan yang bisa digunakan untuk pengajaran
berbicara yang diikuti oleh keterampilan berbahasa yang lain yaitu menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis. Bahasa lisan anak merupakan landasan utama
dalam pengelolaan pembelajaran berbicara. Pendekatan Pengalaman berbahasa ini
sangat menekankan arti pentingnya kondisi awal pembelajar dalam hal kemampuan
bahasa lisan. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran berbicara senantiasa
diawali oleh penggalian pengalaman berbahasa anak yang diungkapkan secara
lisan, kemudian direkam ke dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk kaset.
Hasil rekaman inilah yang kemudian dijadikan alat untuk pembelajaran berbicara.
Dengan kata lain, pendekatan Pengalaman Berbahasa menganut pandangan belajar
dari anak, untk anak, dan oleh anak.
Harapan dari
pembelajaran dengan pendekatan seperti inii adalah pembelajar akan lebih
berhasil manakala sejak awal si pembelajar meyakini dirinya mampu dan bisa
melakukan sesuatu. Dengan bahan ajar yang digali dari siswa sendiri, siswa
diharapkan lebih mudah memahami dalam pembelajaran. Dengan cara seperti ini
siswa akan memiliki rasa percaya diri dan menganggap semua yang dipelajari
adalah sesuatu yang bermakna (memiliki nilai guna).
Prosedur PBB dalam
Pembelajaran Berbicara
Prosedur Pendekatan
Pengalaman Berbahasa dalam pengajaran berbicara memiliki empat langkah sebagai
berikut.
- Mengidentifikasi minat, latar belakang pengalaman, dan fasilitas bahasa lisan anak.
- Pada langkah ini, guru berdialog atau mengadakan percakapan ringan dengan anak. Misalnya bertanya tentang nama, kesukaan, tentang berita atau kejadian aktual di sekitar lingkungan tempat tinggal atau lingkungan sekolah. Langkah ini dimaksudkan untuk merancang dan membangkitkan skemata anak, sehingga dia dapat mengeluarkan pikiran dan perasaannya pada saat guru memintanya.
- Merencanakan dan mendiskusikan pengalaman anak atau topik tertentu yang dipilih anak.
- Langkah ini dimaksudkan untuk menggali pengalaman bahasa anak. Melalui rangsangan tertentu yang kemudian dijadikan topik diskusi, guru membimbing anak untuk dapat mengekspresikan pengalamannya melalui bahasa lisan.
- Mencatat dan merekam bahasa (cerita) anak
- Pembelajaran pada tahap ini, siswa menuliskan ataupun membacakan hasil tulisannya di depan kelas. Hal ini dimaksudkan bahwa bacaan-bacaan lain yang ditulis orang lain dihasilkan melalui proses yang sama seperti yang dilihat dan dialaminya pada saat itu.
- Mengembangkan keterampilan anak sesuai dengan kebutuhan
- Pada langkah ini, barulah pembelajran yang sesungguhnya dimulai. Berdasarkan hasil rekaman pengalaman berbahasa siswa, guru mengawali pembelajaran berbicara. Dengan cara membacakan ataupun memperdengarkan hasil rekaman pada siswa, guru mengajarkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan berbicara serta melatih keterampilan berbicara siswa sampai akhirnya siswa mempunyai keberanian dan keterampilan dalam menyampaikan gagasan, pendapat, ide, dan menceritakan kembali kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis.
Penilaian Keterampilan Berbicara
Setiap kegiatan belajar
perlu diadakan penilaian termasuk dalam pembelajaran kegiatan berbicara. Cara
yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu berbicara adalah tes
kemampuan berbicara. Pada prinsipnya ujian keterampilan berbicara memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berbicara, bukan menulis, maka penilaian
keterampilan berbicara lebih ditekankan pada praktik berbicara.
Untuk mengetahui
keberhasilan suatu kegiatan tertentu perlu ada penilaian. Penilaian yang dilakukan
hendaknya ditujukan pada usaha perbaikan prestasi siswa sehingga menumbuhkan
motivasi pada pelajaran berikutnya. Penilaian kemampuan berbicara dalam
pengajaran berbahasa berdasarkan pada dua faktor, yaitu faktor kebahasaan dan
nonkebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi lafal, kosakata, dan struktur
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kemampuan mengucapkan
bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta
menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan ,pengertian tersebut
menunjukkan dengan jelas bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata
yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan baik itu perasaan,
ide /gagasan.kemudian mengemukakan tujuan berbicara diantaranya adalah untuk
meyakinkan pendengar, menghendaki tindakan atau reaksi fisik pendengar,
memberitahukan, dan menyenangkan para pendengar. Pendapat ini tidak hanya
menekankan bahwa tujuan berbicara hanya untuk memberitahukan, meyakinkan,
menghibur, namun juga menghendaki reaksi fisik atau tindakan dari si
pendengar atau penyimak.
Selanjutnya bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan berbicara adalah faktor urutan
kebahasaan (linguitik) dan non kebahasaan (nonlinguistik). Selanjutnya faktor penghambat
berbicara yaitu fisik,media serta psikolgis.
DAFTAR PUSTAKA
Nuriah,
Eshinta. 2015. Makalah keterampilan
berbahasa.
http://eshintanuriah.blogspot.co.id/2015/10/makalah-keterampilan-berbicara-bahasa.html
http://eshintanuriah.blogspot.co.id/2015/10/makalah-keterampilan-berbicara-bahasa.html
Diundu
tanggal 11 oktober 2016 jam 15:12
Moestoro, Adjie. 2013. Pengertian tujuan dan tes kemampuan.
http://www.kajianpustaka.com/2013/06/pengertian-tujuan-dan-tes-kemampuan.html
Diundu
tanggal 11 oktober 2016 jam 15:17
Sapitri, Lidia. 2014. Faktor-faktor penunjang berbicara.
http://www.mediapidato.com/2014/12/faktor-faktor-penunjang-dan-faktor.html
Diundu
tanggal 11 oktober 2016 jam 15:25